penciptaan alam semesta

BAB I. PROSES TERBENTUKNYA ALAM MENURUT AL-QUR’AN

Dalam Quran surat Al-Anbiya (surat ke-21) ayat 30 disebutkan:

“Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?”

Lalu dalam Quran surat Fussilat (surat ke-41) ayat 11 Allah berfirman:

“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”.

Kata asap dalam ayat tersebut di atas menurut para ahli tafsir adalah merupakan kumpulan dari gas-gas dan partikel-partikel halus baik dalam bentuk padat maupun cair pada temperatur yang tinggi maupun rendah dalam suatu campuran yang lebih atau kurang stabil.

Lalu dalam surat At-Talaq (surat ke-65) ayat 12 Allah berfirman:

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmunya benar-benar meliputi segala sesuatu”

Beberapa hal yang mungkin mengejutkan bagi para pembaca Al-Quran di abad ini adalah fakta tentang ayat-ayat dalam Al-Quran yang menyebutkan tentang tiga kelompok benda yang diciptakan(Nya) yang ada di alam semesta yaitu benda-benda yang berada di langit, benda-benda yang berada di bumi dan benda-benda yang berada di antara keduanya.

Kita dapat menemukan tentang hal ini pada beberapa surat yaitu surat To-Ha (surat ke-20) ayat 6 yang artinya:

“Kepunyaan-Nya lah semua yang ada di langit, semua yang di bumi, semua yang di antara keduanya dan semua yang di bawah tanah”

Lalu dalam surat Al-Furqan (aurat ke-25) ayat 59 yang artinya:

“Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa…”

A. Proses Enam Masa

Sepanjang isi Al-Qur`an, Allâh berulang kali berfirman bahwa semesta diciptakan dalam enam perioda, fi sittati ayyam, a.l. dalam 7:54, 10:3, 11:7,25:59, 32:4, 50:38, dan 57:4. Ayyam, atau bentuk tunggalnya yaum memiliki arti harfiah ‘hari’.

Panjang satu yaum sendiri merentang dari masa yang panjang sekali [1:4], 50000 tahun [70:4], 1000 tahun [32:5], satu zaman [3:140], satu hari [2:184], sekejap mata [54:50], atau lebih singkat dari sekejap [16:77].

Enam perioda penciptaan semesta dijelaskan dalam 41:9-12.

QS 41: Fusshilat

9. Katakan: sungguhkah kamu kufur kepada Yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu jadikan bagi-Nya sekutu? Itulah Rabb semesta.
10. Dan Dia menjadikan peneguh dari atasnya, dan Dia memberkahi serta menentukan kadar aqwat [daya yang membentuk kekuatan] padanya dalam empat periode. Itulah penjelasan bagi yang mempertanyakan. 11. Kemudian Dia berkuasa kepada langit yang berbentuk asap [partikel kecil], lalu berkata kepada langit dan bumi: Datanglah kamu berdua dengan sukarela atau terpaksa. Keduanya menjawab: Kami datang dengan sukarela.
12. Maka Dia menggubah langit dalam dua periode, dan mewahyukan bagi tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit dunia dengan pelita dan perlindungan. Itulah takdir Yang Maha Perkasa dan Maha Mengetahui.

Intisarinya: bumi tercipta dalam dua periode, daya peneguh tercipta dalam empat periode, dan setelahnya langit dan bumi tercipta bersamaan, langit tercipta dalam dua periode. Jadi enam periode itu adalah empat periode penciptaan daya peneguh (rawasiya) dan dua periode penciptaan materi (langit dan bumi).

Rawasiya merupakan turunan kata rasa [meneguhkan, mengikat, menambat], dan dengan demikian memiliki arti peneguh, pengikat, penambat. Pada QS 21:31, Allâh berfirman:

QS 21: Al-Anbiyaa`

(31) Dan Kami jadikan di bumi rawasiya yang membuatnya berpusing [berotasi] bersama mereka.

Allâh juga berfirman:

QS 31: Luqmaan

(10) Dia mencipta langit tanpa tiang seperti yang kamu lihat, dan dia meletakkan rawasiya di bumi supaya tidak menggoncangkan kamu

Dari surat-surat tersebut di atas terlihat bahwa secara umum proses terciptanya jagat raya ini berlangsung dalam 6 periode atau masa dimana tahapan dalam proses tersebut saling berkaitan. Disebutkan pula bahwa terciptanya jagat raya terjadi melalui proses pemisahan massa yang tadinya bersatu. Selain itu disebutkan pula tentang lebih dari satu langit dan bumi dan keberadaan ciptaan di antara langit dan bumi.

B. Proses Terciptanya Alam Semesta

Periode 1. Allâh berfirman “Kun” … Maka ‘ketiadaan’ terpecahkan dengan fluktuasi kuantum berenergi sangat tinggi. Fluktuasi kuantum sebenarnya kejadian biasa, dan selalu terjadi hingga hari ini. Pada proses fluktuasi n
ormal, terbentuk pasangan partikel/energi yang saling berlawanan: partikel bermuatan positif dan negatif, partikel dengan massa dan gravitasi yang menariknya; kemudian akibat saling tarik antara mereka, akan terjadi penggabungan dan pelenyapan mendadak.

Namun dalam periode satu ini, fluktuasi yang terjadi memiliki level energi yang amat tinggi, berujud massa-energi dengan kepadatan hingga 10 pangkat 94 gram/cc, dalam ruang sekecil 10 pangkat -35 m (pendapat para ilmuwan berselisih antara 10 pangkat -38 hingga 10 pangkat -34).

Periode ini berlangsung selama 10 pangkat -43 detik saja, dan berakhir saat semesta bersuhu 10 pangkat 32 kelvin. Saat itu terbentuklah gravitasi yang memisahkan diri.

Periode 2. Pada periode ini sebagian energi telah mewujud gravitasi yang telah berfungsi; energi gabungan elektromagnetik-lemah-kuat yang belum berfungsi. Gravitasi berusaha menarik energi gabungan. Pada titik ini mulai dikenal konsep massa sebagai reaksi atas gravitasi. Maka terbentuklah partikel bermassa, tetapi belum dapat dibedakan tipenya: quark atau lepton. Gravitasi saling tarik dengan massa yang berekspansi, hingga 10 pangkat -35 detik setelah waktu 0, yaitu saat suhu mencapai 10 pangkat 28 kelvin, dan interaksi kuat mewujud.

Periode 3. Terpisahnya interaksi kuat dari energi gabungan bisa diibaratkan seperti air yang mengembun dari uap. Pengembunan melepaskan energi. Pengembunan interaksi kuat melepaskan energi yang luar biasa, mengubah proses tarik-menarik menjadi ledakan yang luar biasa. Ini disebut juga periode inflasi.

Interaksi kuat sendiri menambahkan sifat baru pada massa yang sedang terbentuk itu. Sifat-sifat yang berkenaan dengan interaksi kuat ini dikenal partikel pada ukuran quark. Maka pada periode 3, terwujudlah quark-quark bebas. Periode 3 berakhir pada 10 pangkat -10 detik setelah waktu 0, saat suhu mencapai 10 pangkat 15 kelvin, ketika interaksi lemah telah terpisahkan dengan elektromagnet.

Periode 4. Terpisahnya interaksi kuat dan elektromagnet kembali melepaskan energi yang semakin memperkuat ledakan dalam periode inflasi. Interaksi lemah menambahkan sifat baru yang kita kenal pada ukuran lepton. Sementara itu elektromagnetika menambahkan sifat lain yang kita namakan muatan listrik. Maka lepton pun mulai terwujud, bisa bermuatan dan bisa tidak. Salah satu jenis lepton adalah elektron. Pada periode 4 ini, empat rawasiya atau interaksi peneguh telah selesai terbentuk. Periode 4 berakhir pada 10 pangkat -6 detik setelah waktu 0.

Periode 5. Periode ini diawali pada usia semesta 10 pangkat -6 detik, saat suhu semesta 10 pangkat 13 kelvin, dan besarnya seukuran bola bakset. Quark-quark mulai menyatu membentuk hadron. Ada dua macam hadron: baryon yang tersusun dari tiga quark, dan meson yang tersusun dari satu quark dan satu antiquark. Ada dua macam baryon: nukleon yang akan membentuk inti atom, dan hiperon yang tidak dapat membentuk inti atom. Ada dua macam nukleon: proton dan netron. Hiperon dan meson berumur sangat singkat. Maka hadron yang ada hingga sekarang hanyalah proton dan netron.

Periode 6. Periode ini diawali pada usia semesta 3 menit, saat suhu telah turun hingga 10 pangkat 10 kelvin. Turunnya suhu mengikat proton dan netron membentuk inti atom, yaitu inti hidrogen dan inti helium, tetapi belum mampu menyusun atom yang stabil. semesta berbentuk sup kosmos yang merupakan campuran berbagai partikel yang rapat. Periode ke 6 berlangsung cukup lama: 500.000 tahun. Pada akhir periode 6, suhu telah turun hingga 10 pangkat 4 kelvin, yang memungkinkan inti atom mengikat lepton yang stabil, yaitu elektron, untuk membentuk atom-atom.

Pada akhir periode 6, interaksi-interaksi pengikat telah berfungsi penuh, dan materi-materi pun telah lengkap. Interaksi kuat meneguhkan inti atom. Interaksi lemah membentuk inti atom yang lebih kompleks dari hidrogen dan helium. Elektromagnetika membentuk atom, menyatukan atom menjadi molekul. Gravitasi menata kabut materi menjadi bintang dan planet, menyusun harmoni tatasurya, galaksi, hingga superkluster. Langit dan bumi telah selesai terbentuk. Semuanya bergerak dengan rapi, semuanya bertasbih menyebut nama Allâh.

Dan berikutnya …. infrastrukur pendukung kehidupan, lalu tumbuhan, lalu hewan, lalu … kesadaran. Kesadaran hadir melengkapi semesta saat usianya 18 miliar tahun, dan suhu rata-ratanya 3 kelvin atau -270 derajat celcius. Saat kesadaran diciptakan di atas semesta adalah saat yang penting. Tapi, atas kehendak Allâh juga, kesadaran itu justru sebagian ingkar akan asal-usulnya, dan sisanya perlu diingatkan terus menerus.

QS 58: Al-Mujaadilah

(11) Allâh akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.

BAB I. PROSES TERJADNYA ALAM SEMESTA VERSI BARAT

Di dunia Barat terdapat dua Versi mengenai proses terjadinya alam. Kedua versi ini sangat berlawanan dan tidak saling mendukung, bahkan setelah beberapa tahun kemudian satu versi seperti dianggap tidak berlaku lagi.

A. Teori Materialis

“Alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Jika ia diciptakan, ia sudah pasti diciptakan oleh Tuhan dengan seketika dan dari ketiadaan,” begitu ditulis filosof materialis George Politzer, dalam bukunya Principes Fondamentaux de Philosophie.”

Hanya gara-gara fanatik pada keyakinannya bahwa “Tuhan tidak ada” para ilmuwan seperti Politzer ngotot mempertahankan pendapat, bahwa alam semesta bukanlah sesuatu yang diciptakan. Melainkan ada begitu saja, dengan sendirinya.

Para penganut materalisme ini meyakini model “alam semesta tak hingga” sebagai dasar berpijak paham ateis mereka. Menurut mereka alam semesta adalah sesuatu yang diam, luas tak terbatas, tak berkembang, dan kekal, dari dulu sampai nanti.

Inilah gagasan yang berkembang di abad ke-19. Selain meletakkan dasar berpijak bagi paham materialis, pandangan ini otomatis menolak keberadaan Sang Pencipta (Al-Khaliq) dan menyatakan bahwa alam semesta tidak berawal dan tidak berakhir.

Materialisme adalah sistem berpikir yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Berakar pada kebudayaan Yunani kuno, dan mendapat penerimaan yang meluas di abad ke-19. Sistem berpikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham Materialisme Dialektika Karl Marx.

Ketika Politzer berpendapat bahwa alam semesta tidak diciptakan dari ketiadaan, ia berpijak pada model alam semesta statis abad ke-19, dan menganggap dirinya sedang mengemukakan sebuah pernyataan ilmiah. Lucunya, berbagai penemuan sains dan teknologi yang berkembang di abad ke-20 akhirnya meruntuhkan gagasan kuno yang dinamakan materialisme ini.

B. Teori Big Bang

a. Pengertian Big Bang

(Bahasa Inggris Big Bang Nucleosynthesis = BBN) merujuk pada produksi inti selain H-1, hidrogen normal, selama fase awal alam semesta, beberapa saat setelah Big Bang. Dipercaya bahwa peristiwa ini bertangungjawab pada pembentukan hidrogen (H-1 atau H) dan isotopnya yaitu deuterium (H-2 atau D), isotop helium He-3 dan He-4, dan isotop lithium Li-7.

b. Urut-urutan BBN

Nukleosintesis Big Bang dimulai satu menit setalah Big Bang, ketika alam semesta cukup dingin untuk membentuk proton dan netron, setelah baryogenesis. Dari perhitungan termodinamika sederhana, dapat dihitung fraksi proton dan netron berdasarkan temperatur pada saat itu. Fraksi ini dinyatakan dalam proton per netron, sebab netron yang bermassa lebih besar meluruh secara spontan dengan waktu paruh 15 menit. Salah satu ciri BBN adalah bahwa hukum-hukum fisika dan tetapan-tetapan yang mengatur kelakuan materi pada tingkatan energi saat itu telah dipahami dengan sangat baik, sehingga BBN bukan merupakan peristiwa yang spekulatif sebagaimana peristiwa-peristiwa lainnya di awal alam semesta.

Begitu alam semesta mengembang, dia mendingin. Netron bebas dan proton menjadi kurang stabil daripada inti helium, sehingga proton dan netron memiliki kecenderungan untuk membentuk helium-4. Namun pembentukan helium-4 membutuhkan langkah antara yaitu pembentukan deuterium. Pada saat nukleosintesis terjadi temperatur cukup tinggi, sehingga energi rata-rata per partikel lebih besar daripada energi ikat deuterium; oleh karenanya setiap deuterium yang terbentuk segera hancur kembali (situasinya dikenal sebagai deuterium bottleneck). Di sini, pembentukan helium-4 tertunda hingga alam semesta cukup dingin untuk membentuk deuterium (pada sekitar T = 0.1 MeV), dimana pembentukan elemen tersebut terjadi secara tiba-tiba dan dalam skala besar. Segera setelah itu, pada tiga menit setelah Big Bang, alam semesta menjadi terlalu dingin untuk reaksi fusi nuklir apa pun terjadi. Pada titik ini kelimpahan elemen menjadi konstan dan perubahan hanya terjadi dari peluruhan radioaktif beberapa produk BBN (seperti tritium).

c. Sejarah nukleosintesis Big Bang

Sejarah nukleosintesis Big Bang dimulai dengan perhitungan dari Ralph Alpher dan George Gamow pada 1940an.

Selama 1970an, terdapat masalah besar, yaitu kerapatan baryon, sebagaimana dihitung nukleosintesis Big Bang, kurang daripada massa yang teramati berdasarkan perhitungan laju ekspansi. Teka-teki ini dipecahkan melalui postulat adanya materi gelap.

d. Elemen Berat

Nukleosintesis Big Bang tidak menghasilkan elemen-elemen yang lebih berat daripada berilium. Tidak ada inti stabil di alam yang mengandung 8 nukleon, sehingga terdapat bottleneck yang menghentikan proses nukleosintesis hanya sampai di sini. Pada reaksi fusi nuklir yang terjadi di dalam bintang, bottleneck tersebut dilewati melalui Proses triple-alpha, yaitu proses reaksi nuklir yang melibatkan tumbukan tiga inti helium-4. Namun proses triple alpha tidak dapat mengubah sejumlah besar helium menjadi karbon hanya dalam orde waktu beberapa menit. proses triple-alpha memakan waktu puluhan ribu tahun untuk dapat mengubah helium menjadi karbon dalam jumlah yang signifikan.

e. Helium-4

Nukleosintesis Big Bang memperkirakan terdapat sekitar 25% helium-4 di alam semesta, dan jumlah ini tidak bergantung pada kondisi awal alam semesta. Hal ini disebabkan helium-4 sangatlah stabil sehingga hampir semua netron akan bergabung dengan proton untuk membentuk helium-4. Sebagai tambahan, dua atom helium-4 tidak dapat bergabung untuk membentuk atom stabil, sehingga sekali helium-4 terbentuk dia tetap akan menjadi helium-4. Hal ini dapat digambarkan dengan menganalogikan helium-4 sebagai abu. Jumlah abu yang dihasilkan sebatang ranting yang dibakar adalah tetap, tidak bergantung pada bagaimana cara ranting itu dibakar.

Pengetahuan mengenai kelimpahan helium-4 menjadi penting karena ternyata didapati bahwa kelimpahan helium-4 di alam semesta lebih besar daripada yang diperkirakan dari nukleosintesis bintang. Sebagai tambahan, kelimpahan ini menjadi sebuah batu uji penting bagi teori Big Bang. Jika kelimpahan helium-4 jauh berbeda dari angka 25%, maka akan menghadirkan tantangan serius bagi teori Big Bang.

f. Deuterium

Kebalikan dari helium-4, deuterium sangatlah tidak stabil dan sangat mudah hancur. Karena helium-4 sangat stabil, ada kecenderungan kuat bagi dua inti deuterium untuk membentuk helium-4. Satu-satunya alasan BBN tidak mengubah semua deuterium di alam semesta menjadi helium-4 adalah ekspansi membuat alam semesta mendingin dan memotong pengubahan ini. Tidak seperti helium-4, jumlah deuterium di alam semesta bergantung pada kondisi awal alam semesta. Makin padat alam semesta, makin banyak deuterium yang terkonversi.

Sampai kini tidak diketahui proses yang dapat memproduksi deuterium dalam jumlah signifikan selain proses BBN. Pengamatan kelimpahan deuterium menyarankan bahwa usia alam semesta tidaklah tidak terbatas, yang sesuai dengan teori Big Bang.

Selama dekade 1970an, dilakukan upaya besar untuk menemukan proses yang dapat memproduksi deuterium, yang pada gilirannya menjadi upaya untuk memproduksi isotop yang lebih berat daripada deuterium. Masalahnya adalah ketika konsentrasi deuterium di alam semesta konsisten dengan model Big Bang, harga tersebut terlalu tinggi untuk konsisten dengan model yang menduga bahwa kebanyakan alam semesta terdiri dari proton dan netron. Jika kita mengasumsikan bahwa alam semesta keseluruhannya terdiri dari proton dan netron, kerapatan alam semesta akan sedemikian sehingga kebanyakan deuterium yang teramati sekarang sudah terbakar menjadi helium-4.

Ketidakkonsistenan antara pengamatan deuterium dan pengamatan laju ekspansi alam semesta membawa kepada usaha untuk menemukan proses memproduksi deuterium. Setelah satu dekade usaha ini, konsensus akhir adalah bahwa proses ini tidak mungkin terjadi, dan penjelasan standar yang sekarang digunakan tentang kelimpahan deuterium adalah bahwa alam semesta kebanyakan tidak terdiri dari baryon, dan bahwa materi non-baryonik (disebut juga sebagai materi gelap) mendominasi massa materi alam semesta.

Sangat sulit menjelaskan proses fusi nuklir yang dapat menghasilkan deuterium. proses ini mensyaratkan temperatur yang cukup tinggi bagi terbentuknya deuterium, tetapi tidak cukup tinggi bagi produksi helium-4, dan proses ini harus terdinginkan secara tiba-tiba hingga mencapai temperatur non-nuklir tidak lebih dari beberapa menit saja dan juga diperlukan kondisi agar deuterium segera tersapu keluar dari proses sebelum bergabung dengan yang lain membentuk helium-4.

Memproduksi deuterium dari fisi nuklir juga sangat sulit. Deuterium sangat tunduk pada proses nuklir, dan tumbukan di antara inti atom mungkin menghasilkan penyerapan inti, atau pelepasan netron-netron bebas atau partikel alpha. Selama 1970an, usaha-usaha dilakukan dengan menggunakan sinar kosmik yang ditumbukkan pada sebuah obyek (cosmic ray spallation) untuk menghasilkan deuterium. Usaha-usaha ini gagal tetapi secara tidak terduga menghasilkan elemen-elemen ringan yang lain.

g. Status dan Implikasi BBN

Seperti yang telah diuraikan di atas, dalam gambaran standar BBN, semua kelimpahan elemen ringan bergantung pada jumlah materi biasa (baryon) relatif terhadap radiasi (foton). Karena berdasarkan prinsip kosmologi alam semesta adalah homogen, maka ia akan mempunyai satu harga yang unik untuk rasio baryon terhadap foton (tetapi harga ini masih belum diketahui). Pertanyaan berikut dapat diajukan untuk menguji teori BBN terhadap pengamatan: dapatkah semua pengamatan elemen ringan dijelaskan dengan sebuah “harga tunggal” rasio baryon terhadap foton? Atau lebih tepat lagi, untuk mendapatkan satu rentang ketelitian tertentu dari prediksi dan pengamatan, dapat ditanyakan: adakah suatu “rentang” harga rasio baryon terhadap foton yang dapat berlaku untuk seluruh pengamatan?

Jawaban saat ini adalah ya: prediksi elemen ringan BBN dapat dipersatukan dengan pengamatan untuk sebuah rentang harga baryon terhadap foton, dengan ketidakpatian teoritis dan pengamatan dimasukkan ke dalam perhitungan. Kecocokan ini merupakan keberhasilan kosmologi modern: BBN berhasil mengekstrapolasikan kandungan dan kondisi alam semesta sekarang (yang berusia sekitar 14 milyar tahun) kembali hingga saat dia baru berumur satu detik, dan hasilnya sesuai dengan pengamatan.

h. Teori BBN non-standar

Sebagai tambahan pada skenario BBN standar, terdapat beberapa skenario BBN yang tidak standar. Terdapat berbagai macam alasan dalam meneliti BBN non-standar. Pertama, lebih bersifat sejarah, adalah untuk memecahkan ketidakkonsistenan antara prediksi BBN dan
pengamatan. Tetapi hal ini telah dibuktikan oleh metode dan instrumen pengamatan yang makin baik. Yang kedua, merupakan fokus pengembangan teori BBN non-standar di awal abad ke-21, yaitu menggunakan BBN untuk mencari batas-batas fisika spekulatif. Sebagai contoh, BBN standar mengasumsikan bahwa tidak ada partikel hipotetik eksotik yang terlibat dalam BBN, tetapi seseorang dapat memasukkan partikel hipotetik (seperti neutrino masif) dan melihat apakah yang akan terjadi.

BAB III. KESIMPULAN

Tidak ada seorang pun yang bisa dengan haqqul yakin menetapkan bagaimana dahulu proses terbentuknya alam semesta. Jangankan haqqul yakin, sekedar ainul yakin saja pun tidak.

Sebab kita manusia ini diciptakan jauh setelah alam semesta ini terbentuk. Kalau pun ada ilmuwan yang mengeluarkan statemen ini dan itu, semuanya hanya teori belaka. Dan yang namanya teori, kemungkinan salah dan benarnya seimbang. Bahkan bisa jadi lebih banyak kemungkinan salahnya dari pada benarnya.

Yang tahu persis bagaimana sebenarnya proses terjadinya alam semesta ini hanya Allah saja. Dia adalah Rabb Yang Maha Mengetahui segalanya. Sebagaimana firman-Nya :

Dan Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar. Dan benarlah perkataan-Nya di waktu Dia mengatakan: “Jadilah, lalu terjadilah”, dan di tangan-Nyalah segala kekuasaan di waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang ghaib dan yang nampak. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-An`am : 73)

Meski pun demikian, paling tidak kita bisa mendapatkan sedikit isyarat dari-Nya tentang bagaimana proses terjadinya alam semesta ini. Di dalam Al-Quran dijelaskan secara sekilas bahwa bumi dan langit ini dahulu adalah satu, kemudian dipecahkan.

Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman? (QS. Al-Anbiya : 30)

Sebagian ahli tafsir memandang bahwa ayat ini merupakan seberkas isyarat tentang kebenaran teori big bang yang kita bicarakan diatas. Tapi tidak berarti teori big bang secara pasti didukung Al-Quran. Sebab ayat itu hanya mengatakan bahwa langit dan bumi dahulu adalah satu lalu dipisahkan. Seperti apa proses pemisahannya, apakah dengan ledakan besar atau karena faktor fisika lainnya, sama sekali tidak disebut-sebut. Sehingga pendapat ini -sekali lagi- hanyalah asumsi sebagian ulama tafsir saja. Dan karena itu bisa benar dan juga bisa salah.

A. Astronomi Mengatakan: Alam Semesta Diciptakan

Pada tahun 1929, di observatorium Mount Wilson California, ahli astronomi Amerika, Edwin Hubble membuat salah satu penemuan terbesar di sepanjang sejarah astronomi.

Ketika mengamati bintang-bintang dengan teleskop raksasa, ia menemukan bahwa mereka memancarkan cahaya merah sesuai dengan jaraknya. Hal ini berarti bahwa bintang-bintang ini “bergerak menjauhi” kita. Sebab, menurut hukum fisika yang diketahui, spektrum dari sumber cahaya yang sedang bergerak mendekati pengamat cenderung ke warna ungu, sedangkan yang menjauhi pengamat cenderung ke warna merah.

Jauh sebelumnya, Hubble telah membuat penemuan penting lain. Bintang dan galaksi bergerak tak hanya menjauhi kita, tapi juga menjauhi satu sama lain. Satu-satunya yang dapat disimpulkan dari suatu alam semesta di mana segala sesuatunya bergerak menjauhi satu sama lain adalah bahwa ia terus-menerus “mengembang”.

Agar lebih mudah dipahami, alam semesta dapat diumpamakan sebagai permukaan balon yang sedang mengembang. Sebagaimana titik-titik di permukaan balon yang bergerak menjauhi satu sama lain ketika balon membesar, benda-benda di ruang angkasa juga bergerak menjauhi satu sama lain ketika alam semesta terus mengembang.
Sebenarnya, fakta ini secara teoritis telah ditemukan lebih awal. Albert Einstein, yang diakui sebagai ilmuwan terbesar abad ke-20, berdasarkan perhitungan yang ia buat dalam fisika teori, telah menyimpulkan bahwa alam semesta tidak mungkin statis. Tetapi, ia mendiamkan penemuannya ini, hanya agar tidak bertentangan dengan model alam semesta statis yang diakui luas waktu itu. Di kemudian hari, Einstein menyadari tindakannya ini sebagai ‘kesalahan terbesar dalam karirnya’.

Apa arti dari mengembangnya alam semesta? Mengembangnya alam semesta berarti bahwa jika alam semesta dapat bergerak mundur ke masa lampau, maka ia akan terbukti berasal dari satu titik tunggal. Perhitungan
menunjukkan bahwa ‘titik tunggal’ ini yang berisi semua materi alam semesta haruslah memiliki ‘volume nol‘, dan ‘kepadatan tak hingga‘. alam semesta telah terbentuk melalui ledakan titik tunggal bervolume nol ini.

Ledakan raksasa yang menandai permulaan alam semesta ini dinamakan ‘Big Bang‘, dan teorinya dikenal dengan nama tersebut. Perlu dikemukakan bahwa ‘volume nol‘ merupakan pernyataan teoritis yang digunakan untuk memudahkan pemahaman. Ilmu pengetahuan dapat mendefinisikan konsep ‘ketiadaan‘, yang berada di luar batas pemahaman manusia, hanya dengan menyatakannya sebagai ‘titik bervolume nol‘.

Sebenarnya, ‘sebuah titik tak bervolume‘ berarti ‘ketiadaan‘. Demikianlah alam semesta muncul menjadi ada dari ketiadaan. Dengan kata lain, ia telah diciptakan. Fakta bahwa alam ini diciptakan, yang baru ditemukan fisika modern pada abad ke-20, telah dinyatakan dalam Al-Quran 14 abad lampau: “Dia Pencipta langit dan bumi.” (Al-An’aam: 101)

Teori Big Bang menunjukkan, semua benda di alam semesta pada awalnya adalah satu wujud, dan kemudian terpisah-pisah. Ini diartikan bahwa keseluruhan materi diciptakan melalui Big Bang atau ledakan raksasa dari satu titik tunggal, dan membentuk alam semesta kini dengan cara pemisahan satu dari yang lain.

B. Ledakan yang Membentuk Kesempurnaan

Segala bukti meyakinkan di atas telah menyebabkan teori Big Bang diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa cacat dari ketiadaan.

Dennis Sciama, yang selama bertahun-tahun bersama Sir Fred Hoyle mempertahankan teori Steady-state, yang berlawanan dengan fakta penciptaan alam semesta, menjelaskan posisi akhir yang telah mereka capai setelah semua bukti bagi teori Big Bang terungkap. Sciama menyatakan bahwa ia mempertahankan teori Steady-state bukan karena ia menanggapnya benar, melainkan karena ia berharap bahwa inilah yang benar.

Sciama selanjutnya mengatakan, ketika bukti mulai bertambah, ia harus mengakui bahwa permainan telah usai dan teori Steady-state harus ditolak. Prof George Abel dari Universitas California juga menerima kemenangan akhir Big Bang dan menyatakan bahwa bukti yang kini ada menunjukkan bahwa alam semesta bermula milyaran tahun silam melalui peristiwa Big Bang. Ia mengakui bahwa ia tak memiliki pilihan kecuali menerima teori Big Bang.

Dengan kemenangan Big Bang, mitos ‘materi kekal’ yang menjadi dasar berpijak paham materialis terhempaskan ke dalam tumpukan sampah sejarah. Lalu keberadaan apakah sebelum Big Bang; dan kekuatan apa yang memunculkan alam semesta sehingga menjadi ‘ada’ dengan ledakan raksasa ini saat alam tersebut ‘tidak ada’?

Meminjam istilah Arthur Eddington, pertanyaan ini jelas mengarah pada fakta yang ‘secara filosofis menjijikkan’ bagi kaum materialis, yakni keberadaan sang Pencipta, alias The Creator, alias Al-Khaliq.

Banyak ilmuwan yang tidak secara buta menempatkan dirinya sebagai ateis telah mengakui peran Pencipta yang Mahaperkasa dalam penciptaan alam semesta. Pencipta ini haruslah Dzat yang telah menciptakan materi dan waktu, namun tidak terikat oleh keduanya.
Ahli astrofisika terkenal Hugh Ross mengatakan: “Jika permulaan waktu terjadi bersamaan dengan permulaan alam semesta, sebagaimana pernyataan teorema ruang, maka penyebab terbentuknya alam semesta pastilah sesuatu yang bekerja pada dimensi waktu yang sama sekali tak tergantung dan lebih dulu ada dari dimensi waktu alam semesta. Kesimpulan ini memberitahu kita bahwa Tuhan bukanlah alam semesta itu sendiri, Tuhan tidak pula berada di dalam alam semesta.”

Begitulah, materi dan waktu diciptakan oleh sang Pencipta yang tidak terikat oleh keduanya. Pencipta ini adalah Allah, Dialah Penguasa langit dan bumi.

Big Bang terjadi melalui ledakan suatu titik yang berisi semua materi dan energi alam semesta serta penyebarannya ke segenap penjuru ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dari materi dan energi ini, munculah suatu keseimbangan luar biasa yang melingkupi berbagai galaksi, bintang, matahari, bulan, dan benda angkasa lainnya. Hukum alam pun terbentuk yang kemudian disebut ’hukum fisika’, yang seragam di seluruh penjuru alam semesta, dan tidak berubah.

Sir Fred Hoyle, yang akhirnya harus menerima teori Big Bang setelah bertahun-tahun menentangnya, mengungkapkan hal ini dengan jelas: “Teori Big Bang menyatakan bahwa alam semesta berawal dari satu ledakan tunggal. Tapi, sebagaimana diketahui, ledakan hanya menghancurkan materi berkeping-keping, sementara Big Bang secara misterius telah menghasilkan dampak yang berlawanan -yakni materi yang saling bergabung dan membentuk galaksi-galaksi.”

Tidak ada keraguan, jika suatu tatanan sempurna muncul melalui sebuah ledakan, maka harus diakui bahwa terdapat campur tangan Pencipta yang berperan di setiap saat dalam ledakan ini.

Hal lain dari tatanan luar biasa yang terbentuk di alam menyusul peristiwa Big Bang ini adalah penciptaan ‘alam semesta yang dapat dihuni’. Persyaratan bagi pembentukan suatu planet layak huni sungguh sangat banyak dan kompleks, sehingga mustahil untuk beranggapan bahwa pembentukan ini bersifat kebetulan.

Berkenaan dengan kenyataan yang sama ini, profesor astronomi Amerika, George Greenstein menulis dalam bukunya The Symbiotic Universe: “Ketika kita mengkaji semua bukti yang ada, pemikiran yang senantiasa muncul adalah bahwa kekuatan supernatural pasti terlibat.”

Singkatnya, saat meneliti sistem yang luar biasa mengagumkan di alam semesta, akan kita pahami bahwa keberadaan dan cara kerjanya bersandar pada keseimbangan yang sangat sensitif dan tatanan yang terlalu kompleks untuk dijelaskan oleh peristiwa kebetulan.

Sebagaimana dimaklumi, tidaklah mungkin keseimbangan dan tatanan luar biasa ini terbentuk dengan sendirinya dan secara kebetulan melalui suatu ledakan besar. Pembentukan tatanan semacam ini menyusul ledakan seperti Big Bang adalah satu bukti nyata adanya penciptaan supernatural.

Rancangan dan tatanan tanpa tara di alam semesta ini tentulah membuktikan keberadaan Pencipta, beserta Ilmu, Keagungan dan Hikmah-Nya yang tak terbatas, Yang telah menciptakan materi dari ketiadaan dan Yang berkuasa mengaturnya tanpa henti

REFERENSI

http://www.khairuddinhsb.blogspot.com

http://www.pai07aw.blogspot.com

http://rullysyumanda.wordpress.com/2007/09/23/teori-bingung-alam-semesta/

http://www.harunyahya.com/indo/buku/semesta005.htm

http://agusset.blogspot.com/2005/07/proses-terciptanya-alam-semesta.html

http://www.syariahonline.com/new_index.php/id/1/cn/13077

http://web.koen.cz/kosmis/enam-masa.php

http://www.fisikanet.lipi.go.id/utama.cgi?cetakartikel&1082899383

http://id.wikipedia.org/wiki/Nukleosintesis_Big_Bang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: